Didin Faqihuddin
Ada empat tahap dakwah yang berlangsung selama kehidupan Nabi Muhammad saw., yaitu: 1) dakwah secara rahasia yang berlangsung selama tiga tahun; 2) dakwah secara terang-terangan (dengan lisan saja) yang berlangsung sampai terjadinya peristiwa hijrah; 3) dakwah secara terang-terangan diikuti dengan memerangi orang-orang yang memulai permusuhan terhadap umat Islam. Ini berlangsung sampai terjadinya perjanjian Hudaibiyah; dan 4) dakwah secara terang-terangan diikuti dengan peperangan terhadap orang-orang yang hendak mematikan dakwah Islam dari kalangan musyrik, atheis dan pagan.
Dakwah Secara Rahasia
Nabi Muhammad mulai merespon perintah Allah dengan menyampakan dakwah hanya menyembah Allah dan meninggalkan penyembahan berhala. Akan tetapi Nabi melakukan ini secara diam-diam, untuk menghindari kekagetan orang-orang Quraisy yang sangat fanatik terhadap kesyirikan dan paganismenya. Nabi Muhammad tidak melakukan dakwahnya di ruang-ruang umum masyarakat Quraisy. Beliau juga tidak menyampakan dakwahnya kecuali kepada mereka yang mempunyai hubungan kekerabatan yang sangat dekat, atau mereka yang sebelumnya sudah sangat mengenal Muhammad.
Di antara orang-orang yang paling pertama masuk ke dalam agama Islam adalah: Khadijah binti Khuwailid, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, Abu Bakar bi Abi Qahafah, Utsman bin Affan, Zubair bin ‘Awwam, Abdurrahman bin ‘Awuf, Sa’d bin Abi Waqash, dlsb.
Mereka ini bertemu dengan Nabi Muhammad secara sembunyi-sembunyi. Jika salah seorang di antara mereka hendak melaksanakan ibadah, maka mereka pergi ke balik bukit Mekah untuk menghindari penglihatan orang-orang Quraisy.
Mereka ini bertemu dengan Nabi Muhammad secara sembunyi-sembunyi. Jika salah seorang di antara mereka hendak melaksanakan ibadah, maka mereka pergi ke balik bukit Mekah untuk menghindari penglihatan orang-orang Quraisy.
Ketika pemeluk Islam semakin banyak (di atas 30 orang) maka Nabi memilih rumah salah seorang mereka untuk tempat belajar Islam. Pilihan jatuh kepada al-Arqam bin Abi al-Arqam. Para sahabat diminta untuk datang ke rumah al-Arqam untuk belajar agama Islam. Hasilnya adalah selama masa ini, ada sekitar40 orang yang menyatakan diri masuk ke dalam pangkuan Islam.
Nabi Muhammad pada awal dakwah memang melakukannya secara diam-diam dan rahasia. Sebenarnya ini bukan karena ia takut akan keselamatan dirinya. Rasul sadar bahwa ketika Allah memerintahkannya untuk menyampaikan dakwahnya (ingat QS. al-Mudatsir!) maka dia adalah utusan kepada seluruh manusia. Oleh karena itu ia yakin bahwa Tuhanlah yang telah mengutusnya dan Dialah yang akan membantu dan menolongnya.
Allah memang memerintahkan Muhammad agar memulai dakwahnya secara rahasia, dan jangan menyampaikannya kecuali kepada orang yang kuat diduga akan menerimanya. Ini tentu menjadi pelajaran bag para pegiat dakwah zaman ini untuk memperhatikan lingkungan sekitar dan berbagai sarana yang dapat digunakan untuk menyampaikan misi dakwahnya.
Dari sini dapat dipahami bahwa metode dakwah Nabi Muhammad saw. pada masa ini memiliki segi politik syar’iyah dengan kedudukan beliau sebagai seorang pemimpin. Apa yang dilakukan Nabi Muhammad di awal-awal dakwahnya bukan dalam kapasitas dia sebagai seorang nabi.
Oleh karena itu, para pelaku dakwah di setiap masa bisa menggunakan metode fleksibel dalam melaksanakan dakwahnya: apakah secara rahasia atau pun terang-terangan; apakah dengan kelemah lembutan atau penuh ketegasan sesuai dengan tuntutan kondisi yang ada. Cara fleksibel ini sudah ada contohnya pada tahapan-tahapan dakwah Nabi Muhammad yang telah disebutkan di awal tulisan ni.
Sejarah Nabi Muhammad juga memperlihatkan bahwa kebanyakan orang yang masuk Islam pada masa awal dakwah beliau adalah orang-orang miskin dan duafa. Apa hikmahnya, dan apa rahasia di balik terbangunnya negara Islam dengan konstituen fakir miskin seperti itu?
Jawabannya adalah bahwa fenomena seperti itu merupakan keumuman dakwah para nabi. Maksudnya bahwa dakwah para nabi sebelum Muhammad pun selalu saja pada mulanya direspon oleh orang-orang miskin dan lemah. Pada masa Nabi Nuh as. kita misalnya membaca di Alquran bahwa masyarakat di mana beliau hidup memperolok pengikut Nuh sebagai orang-orang hina: “Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta” (QS. Hud : 27). Demikian pula dengan Nabi Musa as. yang pengikutnya Allah gambarkan sebagai kaum tertindas: “Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya.” (QS. al-A’raf : 137). Tentang Nabi Soleh, Alquran menyebutkan: “Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka: “Tahukah kamu bahwa Shaleh di utus (menjadi rasul) oleh Tuhannya?.” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shaleh diutus untuk menyampaikannya. Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu.” (QS. al-A’raf : 75-76).
Jawabannya adalah bahwa fenomena seperti itu merupakan keumuman dakwah para nabi. Maksudnya bahwa dakwah para nabi sebelum Muhammad pun selalu saja pada mulanya direspon oleh orang-orang miskin dan lemah. Pada masa Nabi Nuh as. kita misalnya membaca di Alquran bahwa masyarakat di mana beliau hidup memperolok pengikut Nuh sebagai orang-orang hina: “Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta” (QS. Hud : 27). Demikian pula dengan Nabi Musa as. yang pengikutnya Allah gambarkan sebagai kaum tertindas: “Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya.” (QS. al-A’raf : 137). Tentang Nabi Soleh, Alquran menyebutkan: “Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka: “Tahukah kamu bahwa Shaleh di utus (menjadi rasul) oleh Tuhannya?.” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shaleh diutus untuk menyampaikannya. Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu.” (QS. al-A’raf : 75-76).
Rahasia di balik itu adalah bahwa hakekat dari agama yang Allah turunkan melalui para rasulNya adalah keluar dari belenggu kekuasaan manusia menuju kekuasaan Allah semata. Agama yang Allah turunkan adalah antitesis sistem eksploitasi manusia atas manusia. Ia adalah ajaran-ajaran yang ingin memanusiakan manusia. Hakekat seperti ini terlihat dengan jelas dalam dialog yang terjadi antara Rustam, sang komandan pasukan Persia, dengan Rabi’ bin ‘Amir dalam pertempuran Qadisiah.
Rustam: “Apa yang mendorong kalian untuk memerangi kami?”
Rabi’: “Kami ingin membebaskan manusia dari penyembahan terhadap sesama manusia kepada penyembahan terhadap Allah semata”.
Rabi’: “Kami ingin membebaskan manusia dari penyembahan terhadap sesama manusia kepada penyembahan terhadap Allah semata”.
Rabi’ kemudian menyapukan pandangannya ke orang-orang di sekeliling Rustam, lalu berkata: “Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih buruk dari kalian. Kami, umat Islam, tidak pernah mengeksploitasi satu sama lain. Sementara kalian, bukankah sebagian kalian menjadikan dirinya tuhan bagi sebagian yang lain?”
Serentak orang-orang di sekeliling Rustam menoleh ke arah Rabi’ dan berkata: “Anda benar hai orang Arab”.
Sementara bagi para pemimpin Persia, ucapan Rabi’ itu bagaikan petir di siang bolong. Mereka berkata pada temannya: “dia (Rabi’) telah mengucapkan sesuatu yang membuat budak-budak kita tertarik padanya”.
Dakwah Secara Terang-terangan
Ibnu Hisyam dalam kitab Sirah-nya menulis bahwa ketika sudah banyak penduduk Mekkah, baik laki-laki maupun perempuan, yang telah memeluk Islam, maka nama “Islam” mulai banyak disebut orang di Mekkah. Maka Allah kemudian memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk menyampaikan dakwah Islam secara terang-terangan. Masa antara Nabi menyampaikan dakwah secara sembunyi-sembunyi dengan datangnya perintah Allah untuk melakukan dakwah secara terang-terangan adalah tiga tahun sejak pengangkatannya sebagai rasul. Allah berfirman: “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik”. (QS. al-Hijr [15]: 94) juga: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. al-Syu’ara [26]: 214)
Setelah itu, Nabi langsung merespon perintah Allah ini dengan menaiki puncak bukit Shafa dan menyeru: “Wahai Bani Fahr, wahai Bani ‘Uday”, sampai kemudian orang-orang berkumpul. Mereka yang tidak sempat hadir, mengirim utusan untuk mengetahui apa yang terjadi. Nabi mulai berkata: “Bagaimana pendapat kalian sekiranya aku kabarkan bahwa di sebelah bukit ini ada satu pasukan yang hendak menyerang kalian, apakah kalian percaya?” Mereka menjawab: “ Kami tidak sekalipun pernah melihat engkau berdusta”. Nabi Muhammad lalu berkata: “Aku memperingatkan kalian dari azab yang sangat pedih”. Tiba-tiba Abu Lahab memaki: “Celaka engkau hai Muhammad sepanjang hari ini. Apakah cuma untuk ini, kamu mengundang kami semua?” Tidak lama setelah peristiwa ini, turunlah Surat al-Lahab.
Setelah itu Nabi turun, dan dalam rangka merespon perintah QS. al-Syu’ara [26]: 214, beliau lalu mengumpulkan keluarganya dan berkata: “Wahai Bani Ka’b bin Lua’ay, jagalah diri kalian dari api neraka; Wahai Bani Abdi Syams, jagalah diri kalian dari api neraka; Wahai Bani Abdi Manaf, jagalah diri kalian dari api neraka; Wahai Bani Abdil Muththalib, jagalah diri kalian dari api neraka; Wahai Fatimah, jagalah dirimu dari apai neraka, karena sesunggunya aku tidak memiliki apa-apa untuk membantu kalian di hadapan Allah”.
Respon yang diberikan oleh orang-orang Quraisy terhadap dakwah Nabi Muhammad yang sudah terang-terangan ini adalah respon negatif. Mereka beralasan tidak bisa meninggalkan keyakinan yang telah mereka wariskan secara turun temurun. Dalam hal ini, Nabi mengingatkan mereka untuk membebaskan pikiran mereka dari belenggu tradisi taklid buta, untuk kemudian beralih menggunakan akal sehat mereka. Nabi Muhammad mengingatkan bahwa patung-patung yang mereka sembah itu sama sekali tidak memberikan manfaat atau mudharat apapun bagi kehidupan mereka. Pewarisan terhadap nenek moyang untuk menyembah patung-patung itu bukanlah alasan bagi mereka untuk menerimanya tanpa reserve. Alquran menyinggung hal ini demikian: “Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. mereka menjawab: “Cukuplah untuk Kami apa yang Kami dapati bapak-bapak Kami mengerjakannya”. dan Apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (QS. al-Maidah [5]: 104)
Manakala orang-orang Arab itu melihat Nabi Muhammad (baca: Alquran) mendeskripsikan ibadah mereka hanya sekedar taklid buta, apalgi nenek moyang mereka disebut-sebut sebagai orang-orang tidak berakal, merekapun menjadi marah dan mulai memusuhi Nabi Muhammad. Wallahu A’lam.
Referensi: Fiqh al-Sirah, Said Ramdhan al-Bhuthi
